PUSAT KEBUDAYAAN JEPANG


PUSAT KEBUDUDAYAAN JEPANG

(dalam konteks adaptasi bangunan tradisional Jepang dengan pendekatan Arsitektur Regionalisme)

2.1. Konsep Tapak
Tapak akan dibagi menjadi 4 bagian dengan 3 elemen yang saling berhubungan;
1. Boundary belt/lines
Taman di sini merupakan taman transisi yang akan membatasi sisi ”terluar” dari dan sisi ”terdalam” dari site, yang merupakan sabuk transisi yang akan membedakan fungsi kegiatan luar dan di dalam tapak. Disini ditampilkan tanaman dengan pola tanam formal planting dengan memperhatikan architectural effect. Pada daerah tertentu, kesatuan karakter ditampilkan dengan mempersatukan kesatuan detail tanaman, baik bentuk tajuk, karakter batang dan tekstur daun.
Diselesaikan dengan menanam pohon di sekeliling taman dengan tujuan menutupi bangunan di dalam taman sekaligus mendapatkan bayang-bayang keteduhan (scenic borrowed) juga sebagai kontrol pandangan (visual control) dan pembatas fisik (phisycal barriers).
Penggunaan Arsitektural Effek diperlukan untuk memperoleh kesan pandangan yang menarik, sehingga seolah-olah bangunan ini sendiri jauh, namun sebenarnya sangat dekat dan pada akhirnya pengunjung di luar bangunan akan tertarik untuk memasuki bangunan Pusat Kebudayaan Jepang.


2. Lower Park
Karakter dan jenis tanaman homogen, kondisi natural tidak ditonjolkan kecuali kolam, sebagai reservoir. Sebagai daya tarik dengan fasilitas rekreasi dan area beristirahat. Pada bagian tengah dibuat plasa dengan dengan kondisi permukaan datar dengan dengan haparan rumput dan kebun yang teratur dan terpelihara. Sedangkan pada beberapa bagian yang merupakan ruang mati (-), dirancang flat (datar) dengan bentuk permukaan kasar dan berbatu, dengan pemilihan tanaman semak dan batu-batuan. Taman ini sering disebut dengan Japanese flat sea garden atau taman air kering. Yang biasanya dipresentasikan pada kuil Zen. Taman ini berbentuk flat/datar dengan pendekatan pasir yang diberi pola dengan penanaman batu-batuan alami di beberapa tempat yang seolah-olah merupakan miniature dari lautan atau danau.
3. Upper Park
Kondisi tapak di bagian selatan dan tenggara dibuat tidak teratur untuk memberikan kesan natural. Karakter dan jenis tanaman lebih heterogen, pada bagian timur diolah menjadi tapak dengan kondisi permukaan berombak dengan hamparan rumput dan kebun yang teratur dan terpelihara. Sedangkan bagian selatan dibuat meadows sesuai dengan tofografi tapak, yang berguna sebagai sarana kontrol alami dari utilitas yang akan dirancang.
Utilitas yang dimaksud adalah; Kolam Konservasi yang akan mengontrol drainase di dalam tapak sebelum disalurkan secara permanen ke riol kota. Kolam konservasi yang
dimaksud berfungsi sebagai pengumpul air hujan yang berguna untuk mengontrol kuantitas air di dalam site. Terlebih karena topografi sitenya berupa kontur meadows yang menurun ke bawah, sehingga bahaya longsor dapat terjadi. Oleh karena itu sistem pengendalian air di perlukan untuk menjaga drainase di dalam site.
Saluran tersier mengumpulkan air hujan dari atap bangunan, kemudian tiap zone dihubungkan dengan saluran sekunder, yang kemudian saluran sekunder, dialirkan mengikuti kontur tapak menuju kolam konservasi, yang akan mengontrol jumlah air melalui sistem kapiler, kelebihan dari buangan air dapat disalurkan melalui saluran yang pada akhirnya akan menuju ke riol kota.
Kolam konservasi juga diperlukan untuk mengolah air sabun yang berasal dari ruangan servis di dalam site. Namun sebelum dialirkan ke dalam kolam konservasi, air sabun ini diolah dulu melalui kolam pengolahan air sabun (aquatic sewage treatment), melalui topografi yang meadows, kita dapat mengatur suatu rangkaian kolam yang bertingkat-tingkat yang semakin ke bawah, air akan semakin bersih.
Pada kolam pertama diadakan tanaman air pakis haji (Azollaceae Azolla Pinnata) dan enceng gondok (Pontederiaceae Eichhomia Crassipes), pada kolam berikut diadakan sayuran air, kangkung air (Convolvulaceae Ipomoea Reptans) dan Kenci (Cruciferae Nasturtium Officinale) dan pada kolam terakhir dipelihara ikan.
Luas kolam Konservasi, dibuat 100-120 m2, dengan dalam 80-160 m2, bagian tepi tidak dibuat curam sehingga memiliki tepi rawa-rawa untuk memperkaya ekosistem. Konstruksi dibuat dengan berlapis tiga (dari bawah ke atas);
– Lapisan tanah pekat (clay) seperti dipakai untuk membuat genting, aluminium silikat (kaolin), atau bentoit, tanah pekat abu vulkanis (montmorillonit) setebal 15 cm.
– Lapisan kedua, pasir kali yang kasar diameter 1-4 mm setebal 10 cm
– Dan lapisan teratas, kerikil kali yang kasar diameter 30-70 mm setebal 10 cm.
4. Parking Lot
Areal parkir dibuat memisah dengan areal kompleks masa bangunan, hal ini dilakukan untuk menghindari masuknya kendaraan bermotor yang dapat mencemari site di dalam, polusi yang dimaksud adalah mulai dari kebisingan juga polusi udara, sehingga ekosistem alami di dalam site tetap terjaga (nature). Di dalam Parking Lot, terdapat beberapa elemen, diantaranya;
1) Cirkular road
Merupakan elemen yang digunakan untuk mengatur aliran sirkulasi di dalam, seperti aliran air, Cirkular road berguna dengan memanfaatkan bentuknya yang melingkar yang dapat mengarahkan kendaraan bermotor bergerak secara dinamis menuju areal parkir.
2) Gerbang Jepang
Dalam hal konteks Regionalism kita tidak dapat melepaskan diri dari keyataan bahwa Pusat Kebudayaan Jepang ini memiliki hubungan yang krusial terhadap kawasan lokal, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Hal ini yang mendasari perlunya hubungan kedua hal ini, yakni budaya Jepang dan budaya lokal dipertahankan. Karena itu diantara areal parkir dengan areal bangunan utama dibuat pagar/gerbang Jepang yang akan membatasi antara kedua hal tersebut. Gerbang Jepang ini memiliki jalusi/kisi-kisi yang terbuat dari kayu, yang akan tetap mempertahankan kedekatan hubungan antar areal kegiatan dengan cara visual, pelaku kegiatan dari dalam dapat melihat keluar, dan pengunjung dari luar dapat melihat keluar Pusat Kebudayaan. Hal ini akan mempertahankan kesan monumentalnya sehingga seolah-olah para pengunjung dan pelaku kegiatan di dalam Pusat Kebudayaan Jepang tidak merasa ’terasing’, dan mereka masih berada di dalam kawasan yang di kenalnya. Namun dari luar, para pengunjung dapat merasakan adanya suatu rasa penasaran yang dapat membuat mereka berkunjung ke dalam bangunan. Efeknya hampir sama dengan Arsitektural Efek yang telah disebutkan di atas, namun kontrolnya lebih secara fisik bangunan.
3) Enterance
Pintu gerbang dari Pusat Budaya Jepang ini dibuat dari arah jalan Demang Lebar Daun, yang mana konturnya naik ke atas, pada sisi kontur ini dibuat dua buah jalan yang akan mengarah ke dalam dan ke luar tapak. Kondisi jalan yang mengarah ke atas ini akan memberikan kesan starling (mencengangkan), sequental (bertahap-tahap) dan dramatis, diamana pengunjung akan dihadapkan pada arah yang mencengangkan dari ketinggian jalan hingga ke ketinggian site (pergerakan mendaki ke atas).
5. Plasa/Ruang terbuka
Konsepnya merupakan daerah yang terpisah, namun akan saling berhubungan dengan unsur site yang lain, ruang terbuka akan memiliki fungsi;
a) Tempat komunikasi sosial (berkumpul secara komunal).
b) Tempat peralihan dan mengunggu.
c) Tempat untuk mendapatkan udara segar.
d) Sarana penghubung antara satu tempat dengan tempat lainnya.
e) Pembatas antara masa bangunan.
f) Penyegaran udara, mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro.
g) Pelembut arsitektur bangunan, diamana plasa ini akan berfungsi sebagai frame yang seperti mercu suar yang akan mengarahkan pandangannya ke sekeliling site karena plasa ini terletak di tengah-tengah site.

Plasa ini akan digunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berskala besar, seperti Festival Budaya Jepang, pada beberapa tempat, misalnya di PSJ UI Depok, lokasi plasa ini cukup kecil sehingga tidak bisa menampung keseluruhan kegiatan secara utuh, sehingga pada plasa yang akan dibangun nanti diharapkan kegiatan yang bersifat festival berskala besar dapat diadakan di sana. Plasa ini berhubungan dengan Gerbang di depan dan auditorium di sisi utara tapak yang akan dihubungkan dengan Philoshopher’s Path, yang merupakan jalur pejalan kaki yang dirancang untuk menghubungkan antar elemen di dalam site.
6. Philoshopher’s Path
Sesuai dengan namanya, Philoshoper’s Path merupakan nama lain yang diberikan pada jalur pedestrian di dalam site yang direncanakan. Seperti yang telah dijelaskan di atas, jalur ini memberikan keteduhan dengan area visual-estetik yang luas, sehingga jarak yang cukup jauh antar bangunan dapat di dicapai tanpa adanya keluhan. Jalur ini juga digunakan untuk memberikan hubungan secara tidak langsung terhadap elemen cirkular road, palasa dan auditorium/perpustakaan (yang merupakan inti Pusat Kebudayaan), sehingga antara zone, pengunjung tidak menemukan adanya suatu ketidak-terikatan antar bangunan.
Fungsi Ekologis dari Konsep Site ini diharapkan dapat; melakukan penyerapan terhadap air hujan, pengendali banjir dan pengatur tata air, memelihara ekosistem tertentu dan perlindungan plasma nutfah. Pada beberapa bagian tentu saja adanya perubahan terhadap ekosistem alami tapak, namun dengan perencanaan yang matang, kita dapat menggantikan ekosistem yang terbuang dengan menggantikannya dengan membangun taman Jepang, sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga.
Sebab bagaimanapun juga, arsitektur tradisional Jepang merupakan arsitektur yang sangat berhubungan erat dengan alam, berfilosofi dan sederhana. Selain itu juga dengan menggunakan taman, kita dapat menerapkan isu yang akan menghubungkan antar pusat kegiatan yang satu dengan pusat kegiatan yang lain.

Sirkulasi di dalam Pusat Kebudayaan Jepang ini dibiarkan menyebar dan tidak terarah, sebab bagaimanapun juga sebenarnya apa yang terlihat di depan bukanlah tujuan akhir, namun keseluruhan perjalanan itu lah yang merupakan tujuannya itu sendiri, dengan menjadikan sirkulasi itu tidak terarah kita dapat menjadikan perjalanan itu menjadi sebuah proses. Seperti aliran sungai waktu masuk ke dalam aliran yang lebih rumit mereka akan menjadi terpecah menjadi aliran yang lebih kecil.

2.2. Konsep Perletakan masa bangunan
1. Pertama-tama tapak seluas ± 3,458 Ha dibagi menjadi susunan formasi/pola grid berukuran 9m x 9m yang merupan proyeksi dari ukuran ½ tikar Tatami (0.9m x 0.9m) yang dikali 10, yang awalnya diambil dari pertemuan garis jalan utama (Demang Lebar daun) dengan garis luar tapak. Pola pengembangan selanjutnya diluruskan secara presisi sejajar ke belakang, sehingga didapat 4 buah kotak yang berukuran 90m x 90m (9m x 9m) x 10 atau proyeksi dari (0.9m x 0.9m/ ½ tikar Tatami) x 10, sehingga seolah-olah ada dua buah tatami besar yang ditempekan ditapak atau bisa juga dikatakan seperti meletakkan 40.000 buah tikar tatami di yang disusun secara presisi di atas site. Hal ini berdasarkan pertimbangan akan dua hal;
1. Mengikuti Layout kota di Edo (Tokyo lama), dan Kyoto yang berdasarkan susunan grid yang sejajar, maka tapak akan terdiri dari beberapa masa bangunan yang standar ukuran ruanganya akan mengikuti ukuran tatami yang berukuran 180×90 (ukuran 1 tikar).
2. Karena ruangan di dalam masa masing-masing bangunan akan berkegiatan bercirikhas Jepang, maka penggunaan standar Ken (Modul berdasarkan Tatami) menjadi penting, sehingga baik tapak maupun bangunan harus mengikuti Modul Tatami.
2. Kemudian secara umum site dibagi menjadi dua areal yang terpisah, yakni parkir dan site bangunan Pusat Kebudayaan Jepang itu sendiri. Dengan memisahkan antara areal parkir dengan areal bangunan, Arsitektur Jepang itu sendiri dapat dipresentasikan secara maksimal pada site itu sendiri, karena sebagian besar site terdiri dari pepohonan, maka konsep arsitektural Jepang yang harus menyatu dengan alam dapat dikondisikan secara maksimal.

Masa Pusat Budaya Jepang terdiri dari 5 masa utama, 3 masa penunjang dan 1 masa servis. Masa-masa Pusat Kebudayaan Jepang diletakkan berdasarkan pola Arsitektural tradisional Jepag
Di dalam Arsitektur Jepang, umumnya terdiri dari beberapa ruangan yang menjadi ciri khas bangunan itu sendiri yang melalui metode yamadori (pengaturan empat ruang), antara lain;
a. Genkan, atau main enterance/enterance utama.
b. Doma, atau ruang tengah, yang melalui;
c. Odo, atau pintu depan yang memisahkan antara Genkan dengan Doma. Doma memiliki taman di sampingnya;
d. Tsuboniwa, yakni small garden/taman kecil.
e. Zashiki, ruang tamu (formal) yang akan langsung berhadapan dengan;
f. Zashiki Niwa, atau taman utama yang merupakan taman Private pemilik rumah.
g. Sedangkan di belakang rumah terdapat (kura ?atau dozo); (Warehouse) ruang tempat menyimpan harta benda berharga milik keluarga.
h. Daidokoro atau dapur terletak di samping rumah.
i. Kesemuanya dihubungkan dengan koridor sempit; Engawa.

Di dalam rumah tradisional Jepang harus ada unsur beikut yang menujukkan ciri khas rumah tersebut; Ruang kecil bersifat dekoratif (tokonoma), ruangan kecil ini berfungsi sebagai ruang hias, yang biasanya terdiri dari kaligrafi Jepang (?shodo) yang digantung (Kakejiku) dan bunga.
Dengan menganalogikan site ini sendiri adalah sebuah bangunan tradisional Jepang, maka kita dapat membagi site ini dalam beberapa analogi yang berbeda;
2.3. Konsep Bangunan
Pada bangunan yang akan dibuat, tidak akan terlepas dari kesemua unsur yang berada di dalam arsitektur Jepang, walaupun hanya berupa simbolismenya saja.

Masa Pendidikan

1. Masa Pendidikan Keterampilan Budaya Jepang
Dengan luas lantai 972m2, dan modul 0.9m x 0.9m, Masa pendidikan ini terdiri dari 1 ruangan servis, 5 ruangan penunjang/pengelola, dan 6 ruangan kelas yang terinci sebagai berikut;
• 2 buah ruang kelas dengan luas @ 5.4m x 9m.
• 2 ruang keterampilan dengan luas @ 5.4m x 9m.
• Laboratorium Bahasa Jepang dengan luas @ 5.4m x 9m.
• Ruang Guru dengan luas @ 5.4m x 9m.
• Ruang arsip dan gudang dan ruang fotokopi @ 5.4m x 5.4m.
• Ruang rapat dan ruang kepala @ 5.4m x 5.4m
Taman Zashiki Niwa merupakan taman privat yang diperuntukan untuk pengunjung/pengguna gedung pendidikan ini. Taman diperlukan sebagai kontrol iklim secara mikro di dalam bangunan itu sendiri, selain itu taman diperlukan untuk memberikan kesan kenyamanan dan keindahan di dalam bangunan. Antar ruangan dihubungkan oleh koridor lurus yang saling berhubungan, untuk memberikan efek kesinambungan yang berkelanjutan di dalm pola pergerakan manusia di dalam bangunan. Doma merupakan areal berkumpul antar siswa di dalam bangunan ini.

2. Masa Pendidikan Formal Kajian Jepang
Dengan luas lantai 486m2, dan modul 0.9m x 0.9m, Masa pendidikan ini terdiri dari 1 ruangan servis, 2 ruangan penunjang/pengelola, dan 4 ruangan kelas yang terinci sebagai berikut;
• 3 buah ruang kelas dengan luas @ 5.4m x 9m.
• Kantor 5.4m x 5.4m dan ruang Guru 5.4m x 9m.
• 1 buah Toilet yang terdiri dari toilet wanita dan pria, luas 5.4m x 9m.

3. Perpustakan dan Auditorium
Luas lantai satu dan lantai dua = 729 m2 + 194.4 m2, dan modul 0.9m x 0.9m, Perpustakaan lantai satu ini terdiri dari 2 ruangan servis, 3 ruangan penunjang/pengelola, dan 7 ruangan utama yang terinci sebagai berikut;
• Ruang baca dengan luas 7.2 m x 27m.
• Ruang Audio visual 10.8m x 7.2m
• Ruang Pameran 10.8m x 9m
• Kantor Pengelola 7.2m x 3.6m
• Conference room dan Seminar room luas 7.2m x 7.2m, Meeting Room 7.2m x 5.4m
• Auditorium 23.4m x 9m
• Dapur Kering 5.4m x 3.6m
Dalam konteks perancangan di gedung ini, maka Genkan (Enterance Area) dibuat lebih besar terutama dalam hal kapasitas penampungannya, hal ini diperlukan untuk memperbanyak sequence sebelum masuk ke dalam bangunan. Selain itu hal ini diperlukan sebagai Lobby bagi pengunjung perpustakaan, karena perpustakaan ini sendiri letaknya di tengah tengah tapak dan ditinggikan, sehingga pengunjung Pusat Kebudayaan Jepang dapat memandang keseluruhan Pusat Kebudayaan Jepang dari atas Lobby ini.


4. Gedung Pengelola
Dengan luas lantai 486m2, dan modul 0.9m x 0.9m, Gedung Pengelola ini terdiri dari 1 ruangan servis, 5 ruangan utama yang terinci sebagai berikut;
• Ruang administrasi dengan luas 4.5m x 9m.
• Ruang staf, ruang kabag budaya dan bahasa, ruang rapat dan ruang direktur, 4.5m x 4.5m
• Taman Tsuboniwa, taman untuk menerima tamu (9m x 9m)


5. Dojo
Bangunan ini terdiri dari dua kegiatan bela diri; bela diri lunak dan bela diri keras. Bela diri lunak adalah Aikido Jijutsu dan Kendo yang memiliki ruang latihan; 4.5m x 9m, Bela diri luka Judo, Kempo dan Karate. Yang memiliki ukuran ruang 12.6m x 9m. Di tengah tengah bangunan terdapat areal berkumpul (doma) yang berukuran 9m x 7.5m, sedangkan tengah-tengah agak ke ujung terletak Sensei-Seat dan Sohan (guru besar), tempat guru aliran bela diri duduk dan menuyaksikan muridnya berlatih.


6. Guest House
Luas bangunan; 810m2 terdiri dari 5 kamar standar (4.5m x 4.5m), dan 6 kamar standar dengan WC di dalam (4.5m x 4.5m). Gudang dengan ukuran (4.5m x 4.5m), kamar pertemuan dua buah dengan luas masing2 9m x 9m.
Guest House ini terdiri dari tiga taman, taman kering dan taman private. Taman kering diperlukan untuk memberikan efek mencengangkan (starling) pada penghuni kamar. Sedangkan taman private untuk memberikan servis keindahan pada tamu guest house.

7. Sento (Pemandian air panas terbuka)
8. Retail/Outlet

Gaya bangunan
Gaya bangunan merupakan adaptasi gaya bangunan tradisional Jepang namun dengan tetap mempertahankan budaya lokal dengan pendekatan Regionalisme.
Sebenarnya ada persamaan antara bangunan Tradisional Jepang dengan bangunan Tropis, hanya beberapa bagian yang krusial yang tidak bisa disamakan, berikut perbedaan antara bangunan tropis dengan bangunan tradisional Jepang;

Karena sifat iklimnya yang sama, baik fasade tradisional Jepang maupun fasade bangunan tropis, maka ada beberapa unsur yang tidak perlu diubah, seperti gaya atap yang vernikular, pintu dan jendela yang terbuka lebar dan bangunan yang ditinggikan dari atas tanah.

Gedung Perpustakaan ini dirotasi sebesar 45o ke arah timur laut dari tapak, hal ini akan memberikan kesan monumental dari setiap sudut site. Selain itu hal ini digunakan untuk memberikan frame bagi bangunan sekitar.
Untuk menunjukkan karakter suatu hal, maka harus dibandingkan dengan hal lain yang berbeda, dari sekelompok yang sama, apabila ada karakter yang berbeda, maka karakter itu akan menjadi sepesial karena dia akan menjadi pembanding dengan bentukan yang lain. Hal ini dapat diterapkan pada Pusat Budaya Jepang ini, dimana kesemua karakter bangunan memiliki tipikal fasade yang sama, namun dengan membedakan gedung perpustakaan (yang penting secara kegiatan), kita akan memperoleh kesan bahwa perpustakaan ini dapat menjadi frame bagi bangunan yang lain, sehingga seolah-olah terjadinya karakter baru yang tidak meniadakan salah satu bangunan pun, namun akan menguatkan mereka secara keseluruhan.
Dengan frame, suatu pemandangan biasa akan menjadi indah. Hal ini diterapkan pada Pusat Budaya Jepang ini.

2.4. Utilitas Tapak
Penyaluran Pembuangan (Sanitasi)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisa penyaluran pembuangan antara lain; memberikan penghargaan dan perhatian tehadap manusia dan lingkungan, serta memanfaatkan proses recycle yang memungkinkan untuk penghematan biaya dan pelestarian lingkungan.
Pembuangan Air Kotor
System ini terbagi dalam;
1. Air hujan dengan pembuangan air hujan menuju saluran kota dilengkapi dengan bak control pada jarak tertentu, yang akan mengarah ke kolam konservasi sebagai pengendali aliran air di dalam tapak yang kemudian dikontrol melalui riol kota.
2. Air kotor cair dengan pembuangan air kotor yang berasal dan pantry, washtafel dan toilet disalurkan ke sewage treatment lalu diteruskan ke saluran utama kota melalui pipa bak-bak control.
3. Air kotor padat dengan dibuang melalui saluran khusus melalui septic tank, sewage treatment.

Konsepnya Recycle, air hujan akan dialirkan menuju kolam konservasi laludari kolam ini, air hujan ini dipakai lagi untuk menyirami taman di dalam Pusat Kebudayaan dan begitu seterusnya berkelanjutan. Kolam konservasi ini juga digunakan untuk mengontrol kuantitas dan kualitas air di dalam ekosistem tapak.

2.5. Utilitas Bangunan

Utilitas air di dalam bangunan diusahakan sedapat mungkin dapat di recycle kembali, sehingga air sabun/grey water direcycle untuk memperoleh air kembali yang dapat digunakan untuk maintance taman. Sistem ini dijelaskan sebagai berikut.
Air sabun yang berasal dari toilet, dapur dan pantry di alirkan pada kolam pengloahan air sabun yang bekerja dengan mekanisme;
Terdapat dua kolam,
Pada kolam pertama diadakan tanaman air pakis haji (Azollaceae Azolla Pinnata) dan enceng gondok (Pontederiaceae Eichhomia Crassipes), sayuran air, kangkung air (Convolvulaceae Ipomoea Reptans) dan Kenci (Cruciferae Nasturtium Officinale) dan pada kolam terakhir dipelihara ikan.

Satu pemikiran pada “PUSAT KEBUDAYAAN JEPANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s